Thursday, December 25, 2014

Counting the day

It is getting closer to the day that I have to departure to a city that far from home, more than 11.000 km. It scares me. 15 days, I only have 15 more days to prepare everything, stuffs, clothes, and most important is mental. You know what things that most scare me out? Friends. My family is very far from me, the closest thing I get as a family would be friends. If I have friends, bismillah, I will get through it. 

Shit. 15 Days.

15 Days.

Damn.

Sunday, October 19, 2014

Growth Zone

Oke, satu fase hidup gue sudah selesai yaitu kuliah S1. Alhamdulillah lulus tepat waktu dan mendapat nilai yang baik, dan gue puas. Sekarang gue akan melanjutkan S2 ke satu kota yang belom pernah gue datengin dan berjarak 11.256 km dari jakarta. Jauh ya? Iya, jauh. banget. Daily language nya pun bukan pake bahasa yang familiar, belajarnya sih pake bahasa inggris, tapi masa gue ga ngobrol sama orang-orang disana. Gue akan memulai semua hal baru disana, selama 2 tahun 3 bulan. Ditambah lagi gue ga boleh pulang sama nyokap, dengan alasan dia aja yang ngunjungin kesana, sekalian dia jalan-jalan.

Gue harus meninggalkan semua rutinitas gue di Jakarta, 3 bulan lagi, tepatnya 81 hari lagi. Takut? Banget, gue ga pernah sejauh ini dari rumah, dari keluarga, dari sahabat, dari tempat yang gue familiar. Kemarin pas terima acceptance letter dari kampus gue, gue tiba-tiba takut, ragu apakah keputusan ini bener? Apakah jurusan yang gue ambil itu bener? Gue bakal dapet temen apa ngga ya? Orang-orang disana mau ga ya jadi temen gue? Semua pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya ga pernah ada muncul tiba-tiba. Galau. Banget. Cerita ke nyokap, bokap, kakak gue mereka kurang membantu, jawabannya cuman "Ya terserah Dinda, kan Dinda yang tau diri Dinda gimana" atau "Dinda bisa takut juga ya?" Booooos kan gue masih manusia yang punya rasa takut.  Akhirnya gue putuskan untuk ketemu temen gue, setelah ngobrol panjang lebar sama dia, dia bilang satu kalimat yang membuat gue berani bilang bahwa keputusan yang gue ambil ini InsyaAllah bener. Dia bilang
"There is no growth in comfort zone, there is no comfort in growth zone"
Waktu temen gue ngomong gitu, itu seperti satu mantra yang gue langsung yakin bahwa gue mau berkembang, I wanna be on top of the world. No. I'm gonna be on top of the world. Fase takut-takut ini adalah fase yang harus gue lalui. Wajib. Banyak banget cita-cita yang mau gue raih, dan gue tau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi akan membuka jalur itu. 

Setelah itu, nyokap gue bilang sama gue
"Mama emang ga ada di dekat kamu selalu nanti, tapi yakin bahwa Allah selalu dekat sama kamu. Jalan yang kamu tempuh, atau pilih insyaAllah merupakan jalan yang diridhoi sama Allah. Makanya terus berdoa dan jangan tinggalkan solat dimanapun kamu berada. Mama yakin kok kamu pasti bisa"
Iya, gue pasti bisa. Harus bisa. Gue harus berkembang, gue gamau stop disini, gue harus bisa buat orang tua gue bangga sama gue, nenek gue juga. Semoga nenek gue masih ada 2 tahun 6 bulan dari sekarang, supaya dia bisa hadir di wisuda gue nanti, dengan predikat cumlaude. Iya itu salah satu target gue, mendapat predikat cumlaude

Bismillah. Tolong siapapun yang baca post ini, doain gue ya supaya lancar perjalanan gue meraih mimpi gue.

Terimakasih.

Monday, June 2, 2014

April 16, 2009 at 19.14

Malam ini dingin, tetapi tetap membawakan kenikmatan yang tak ternilai
Duduk menatap langit merasakan rintik- rintik hujan yang jatuh dan menanamkan rasa syukur di dalam hati
Pejamkan mata tak lama terputar kembali memori bersamaan dengan impian yang terkembang dalam hati tak dapat dicurahkan
Terukir senyum pasrah tak bergelora saat memori tentangnya terputar terbayang jelas di pikiran dan hati
Seseorang yang dapat membuat merasa sempurna
Seseorang yang terlalu indah untuk dimiliki

Friday, December 21, 2012

Ketika apa yang ditunjukkan adalah kejujuran tetapi setelah itu masih saja dianggap kekurangan dan tetap dicela.

Ketika lelah menyapa dan emosi hanya berjarak tak sampai selangkah.

Marah. Kesal. Diam.

Tak lama, sesal datang. Seharusnya bukan refleks itu yang ditunjukkan.

Bodoh.

Monday, December 26, 2011

Drama

Akhirnya kembali lagi duduk ditempat ini, dengan aroma kopi yang menyapa indera pencium dan kursi seolah-olah katakan halo saat saya datang. Alunan musik samba membelai telinga dengan hentakkan berirama.

Segelas kopi menemani saya malam ini, duduk menyaksikan orang-orang beraktivitas. Sekelompok orang yang seumuran denganku sedang bercanda tawa, dua orang bapak-bapak bekerja, terlihat kerutan di dahi dan mereka menghisap tembakau itu terlalu dalam. Pasangan entah suami istri atau kekasih sedang bercakap-cakap penuh mesra, pria terlihat antusias dengan apa yang diceritakan oleh wanitanya, entah itu cerita apa, tapi sebanyak yang saya dengar, dia menceritakan tentang pengalamannya belanja pada midnight sale tempo hari.

Sepasang, pria dan wanita, duduk tepat dimeja sebelah saya. Dan saya bisa yakin itu bukan kekasih, tapi sahabat. Pria berambut pendek, dengan kumis dan janggut yang tipis, garis muka yang tegas tetapi terlihat begitu lembut saat berbincang dengan orang dihadapannya. Wanita berambut panjang, sedikit ikal, lembut dan terlihat matanya sedikit merah. Bukan karena ia mengkonsumsi obat-obatan tetapi karena matanya panas karena menahan tangis. Wanita itu berbicara terlampau keras, sampai saya bisa mendengar percakapan mereka. Tidak jauh-jauh, bahasan nya lagi-lagi mengenai cinta. Biar saya berasumsi, si Wanita dicampakkan oleh lelaki atau mungkin wanita terperangkap dalam friend-zone. Ya, itu hanya asumsi saya. Pria terlihat menghiburnya dengan sungguh-sungguh lalu dipegang tangan wanita  untuk pengganti kata-kata "Sabar ya, mencintai tak berarti memiliki, masih ada aku."

Ah saya membuat drama cinta sepertinya. Tapi jangan salahkan saya, salahkan pemikiran saya yang langsung tersambung dengan jemari ini dan mengetiknya dalam blog untuk dipublikasikan. Dan sekarang wanita itu menangis, lalu pria tiba-tiba berpindah dari duduk didepannya menjadi disebelahnya dan merangkulnya. Sedih sekali melihat wanita itu terisak, tangisan tanpa suara tetapi terlihat pundaknya naik turun. Jauh sekali luka hatinya. Berangsur-angsur wanita itu menyelesaikan perdebatan hati yang bereaksi dengan air mata. Pria memanggil pelayan dan meminta bill menandakan mereka akan pergi.

Dalam hati ini, berkata "Jangan pergi, saya masih ingin melihat drama yang akan saya lihat dan akan berasumsi dengan penglihatan ini" Tapi siapa saya yang bisa menahan mereka tetap disini, saya bukan siapa-siapa. Melihat mereka saja baru kali ini. Setelah pria menyelesaikan pembayaran, pria berdiri tetapi wanita itu masih duduk dan meletakkan wajahnya di kedua tangannya. Dan saya hafal tatapan mata itu, saya tau tatapan mata pria itu. Sakit. Hm... Sakit ya tuan? Melihat wanita yang anda cintai ternyata mencintai orang lain. Tiba-tiba pria membuang muka menatap meja saya dan tatapannya nanar, saya langsung membuang muka daripada saya ketahuan sedang membaca dan memperhatikan nya. Tak lama, Nona berdiri dan mereka berjalan menuju pintu keluar dan hilang dibalik tembok.

Drama, hidup ini penuh drama. Segala script yang sudah ditulis pun tidak berguna karena ujung-ujungnya kita menggunakan script yang ditulis oleh Sang Khalik. Mau apa lagi Tuan? Sesaat mereka pergi, terputar lagu Mike Mohede - Besar. Saya hanya tersenyum, menyadari ternyata bukan saya saja.

Terlalu banyak yang tertulis disini, saya mau menikmati kopi yang mungkin sudah dingin karena terbuai dengan adegan demi adegan tadi. Malam.

Monday, December 19, 2011

Stupidity

It always about you............




Yes, you....


Someone who stole my heart,


                             my attention,          
                                                             
                                                                   my time,


         But I never feel that is wasting my time....



Yes, you make me look stupid,


Love makes me stupid

Tuesday, December 13, 2011

Time

Minggu - 11 Desember 2011

Salah satu saudara, tante, menikah. Itu merupakan satu hari yang membahagiakan untuk dibicarakan hinggu satu minggu kedepan. Lihat saja, hari itu, rumah nenek menjadi megah. Pelaminan tersusun dengan rapi, hiasan begitu cantik dengan bunga mawar putih dan bunga sedap malam. Ijab kabul yang berjalan lancar, pengantin pria mengucapkannya hanya dengan satu nafas. Pesta resepsi yang begitu sempurna dengan konsep garden party, makanan tertata dengan elegansi dan rasa yang begitu luar biasa nikmat. Hari itu penuh dengan keceriaan, canda, tawa, tangis haru, dan segala kata yang biasa menggambarkan indahnya hari itu. 

Congrats to Lia Kamilia :)

Senin - 12 Desember 2011

08.27 baru saja bangun, seharusnya 27 menit yang lalu sudah ada dikelas, siap dengan kalkulator untuk menghitung keuangan. Hal pertama kali dilakukan ialah, mengambil ponsel. Terlihat satu bbm dari orang tua, pesan yang tak terduga, tetapi tidak membuat kaget. Intinya, bergegaslah ke rumah sakit di daerah jakarta selatan. Mandi, dan berangkat. Jalan ternyata tidak begitu bersahabat pagi itu, jalan yang seharusnya bebas hambatan, malah menjadi hambatan. Sedikit lagi sampai di rumah sakit, ada sebuah pesan masuk lagi, mengatakan dia telah tiada. Menangis? Tidak. Hanya terdiam, terpaku di lampu merah jalan itu. Lanjutkan perjalanan, sampai lah di rumah sakit. Aku masuk ke ruangan ICCU, dan kulihat dia. Tercerai berai air mata yang sedari tadi tidak muncul, sesak hati ini, kupeluk saudara ku dan menangis di bahu nya. Hari itu menjadi hari berkabung bagi seluruh keluarga. Entah mengapa, terasa ada suatu yang hilang. Bagian itu tak lagi sama.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Sa'adiah Noor binti Usman Noor

She has been fighting through all this time, actually we knew we were going to lose her, but we were not ready yet. But we believe God knows whats the best for her :)

Dua kejadian yang menjadi penutup tahun 2011 ini, pernikahan dan kematian. Allah tunjukan pada kami kuasaNya.