Thursday, August 4, 2011

Perjalanan

Aku menghabiskan waktu untuk sekedar menghibur hati ke salah satu kota pelajar selain Yogyakarta, Malang. Pergi kesana bertemu dengan kawan-kawan yang sudah cukup lama hilang dari hari-hari ku. Bercengkrama, senda gurau, tidak sedikit pun terbesit atau tersentuh sebongkah hati yang luka ini. 

Menyempatkan diri untuk melihat keajaiban yang diberikan Allah, Gunung Bromo. Perjalanan yang dimulai tengah malam untuk menyaksikan matahari terbit. Pemandangan yang membuat aku menahan nafas, terlalu indah. Hati ini ingin meledak rasanya saat melihat itu. Apalagi saat Gunung Bromo terlihat jelas, masih ada kabut tipis di sekitar nya tapi pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan. Pemandangan itu membuat aku semakin mencintai Indonesia dan keyakinan ku akan Allah semakin kuat.



Tiba di hari aku harus pulang ke Ibu Kota, Jakarta, menghadapi realita-realita dan rutinitas. Perjalanan pulang dengan kereta ekonomi, Matarmaja. Kereta siap menempuh perjalanan pukul 3 sore hari Kamis. Saat aku masuk, selayaknya kereta ekonomi, tempat duduk 90 derajat, tidak ada pendingin, satu-satunya celah udara adalah pintu gerbong dan jendela yang lebarnya hanya satu jengkal. Aku duduk disana, menyaksikan setiap detik dan mencoba menikmatinya. Banyak jualan kaki lima, menawarkan berbagai macam makanan khas daerah yang sedang disinggahi. Karena ini kereta ekonomi, jadi berhenti di setiap stasiun.

Saat pagi tiba, sekitar jam setengah 6, kereta sudah sampai di stasiun Tegal. Aku terbangun, lalu melihat keluar kereta, disuguhkan pemandangan pedesaan, rumah-rumah kecil terasa hangat, petani-petani yang siap menumbuk padi. Pemandangan yang sulit sekali didapatkan saat berada di Jakarta, kanan kiri yang dilihat hanyalah gedung.

Sesampai di Jakarta, tepatnya di Stasiun Pasar Senen, waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Aku menghitung berapa jam perjalanan yang dilalui, dan 19 jam. 19 jam hanya duduk di kereta, pantas badan ini terasa pegal dan kaku. Tapi perjalanan itu memberikan aku banyak pelajaran yang berarti, dua diantaranya sabar dan bersyukur. Sepele memang, tapi kesulitan tingkat tinggi. Kesabaran akan fasilitas kereta yang tidak bisa dianggap manusiawi, kebosanan yang akut, dan letihnya badan karena tidak bisa berbaring. Hal-hal itu sepele, tapi prosesnya tiada dua.

Bersyukur aku masih bisa diberikan fasilitas-fasilitas yang membuat hidupku lebih mudah, masih bisa makan 3 kali sehari, masih bisa pergi kemana pun tanpa harus takut terlambat mendapatkan angkutan umum, masih bisa membeli barang-barang yang aku ingin walau tidak perlu. Di kereta itu banyak orang yang tidur di lorong gerbong, ada yang tidur berdiri, ada yang diantara gerbong. Sedangkan aku, masih bisa duduk, masih bisa membeli makanan yang aku mau, sedangkan masih banyak orang yang perut berteriak meminta diisi tapi apa daya? Uang mencekik lehernya terlebih dahulu.

Terimakasih atas segala berkah yang diberikan oleh Allah disetiap detiknya. Selamat berpuasa :)


0 comments:

Post a Comment