Monday, December 26, 2011

Drama

Akhirnya kembali lagi duduk ditempat ini, dengan aroma kopi yang menyapa indera pencium dan kursi seolah-olah katakan halo saat saya datang. Alunan musik samba membelai telinga dengan hentakkan berirama.

Segelas kopi menemani saya malam ini, duduk menyaksikan orang-orang beraktivitas. Sekelompok orang yang seumuran denganku sedang bercanda tawa, dua orang bapak-bapak bekerja, terlihat kerutan di dahi dan mereka menghisap tembakau itu terlalu dalam. Pasangan entah suami istri atau kekasih sedang bercakap-cakap penuh mesra, pria terlihat antusias dengan apa yang diceritakan oleh wanitanya, entah itu cerita apa, tapi sebanyak yang saya dengar, dia menceritakan tentang pengalamannya belanja pada midnight sale tempo hari.

Sepasang, pria dan wanita, duduk tepat dimeja sebelah saya. Dan saya bisa yakin itu bukan kekasih, tapi sahabat. Pria berambut pendek, dengan kumis dan janggut yang tipis, garis muka yang tegas tetapi terlihat begitu lembut saat berbincang dengan orang dihadapannya. Wanita berambut panjang, sedikit ikal, lembut dan terlihat matanya sedikit merah. Bukan karena ia mengkonsumsi obat-obatan tetapi karena matanya panas karena menahan tangis. Wanita itu berbicara terlampau keras, sampai saya bisa mendengar percakapan mereka. Tidak jauh-jauh, bahasan nya lagi-lagi mengenai cinta. Biar saya berasumsi, si Wanita dicampakkan oleh lelaki atau mungkin wanita terperangkap dalam friend-zone. Ya, itu hanya asumsi saya. Pria terlihat menghiburnya dengan sungguh-sungguh lalu dipegang tangan wanita  untuk pengganti kata-kata "Sabar ya, mencintai tak berarti memiliki, masih ada aku."

Ah saya membuat drama cinta sepertinya. Tapi jangan salahkan saya, salahkan pemikiran saya yang langsung tersambung dengan jemari ini dan mengetiknya dalam blog untuk dipublikasikan. Dan sekarang wanita itu menangis, lalu pria tiba-tiba berpindah dari duduk didepannya menjadi disebelahnya dan merangkulnya. Sedih sekali melihat wanita itu terisak, tangisan tanpa suara tetapi terlihat pundaknya naik turun. Jauh sekali luka hatinya. Berangsur-angsur wanita itu menyelesaikan perdebatan hati yang bereaksi dengan air mata. Pria memanggil pelayan dan meminta bill menandakan mereka akan pergi.

Dalam hati ini, berkata "Jangan pergi, saya masih ingin melihat drama yang akan saya lihat dan akan berasumsi dengan penglihatan ini" Tapi siapa saya yang bisa menahan mereka tetap disini, saya bukan siapa-siapa. Melihat mereka saja baru kali ini. Setelah pria menyelesaikan pembayaran, pria berdiri tetapi wanita itu masih duduk dan meletakkan wajahnya di kedua tangannya. Dan saya hafal tatapan mata itu, saya tau tatapan mata pria itu. Sakit. Hm... Sakit ya tuan? Melihat wanita yang anda cintai ternyata mencintai orang lain. Tiba-tiba pria membuang muka menatap meja saya dan tatapannya nanar, saya langsung membuang muka daripada saya ketahuan sedang membaca dan memperhatikan nya. Tak lama, Nona berdiri dan mereka berjalan menuju pintu keluar dan hilang dibalik tembok.

Drama, hidup ini penuh drama. Segala script yang sudah ditulis pun tidak berguna karena ujung-ujungnya kita menggunakan script yang ditulis oleh Sang Khalik. Mau apa lagi Tuan? Sesaat mereka pergi, terputar lagu Mike Mohede - Besar. Saya hanya tersenyum, menyadari ternyata bukan saya saja.

Terlalu banyak yang tertulis disini, saya mau menikmati kopi yang mungkin sudah dingin karena terbuai dengan adegan demi adegan tadi. Malam.

0 comments:

Post a Comment